Tuesday, May 19, 2015

YOU


I don't know what i feel right now. I feel really tired!

Tuhan, bolehkah aku mengeluh untuk kesekian kali nya? Maaf jika aku tak sempurna, aku wanita biasa yang tidak selalu bisa tegar disetiap masalah. Aku percaya setiap aku melewati ini tingkat kesabaran dan ketegaran aku menghadapi masalah akan semakin meningkat. Namun inilah cara aku melepas semua kekesalan dan amarahku.

Mungkin ini salah aku ketika kita berkomunikasi kembali, dg satu pertanyaan yang mengundang kita untuk berinteraksi setelah sebulan lebih kita menjalani hidup masing-masing. Maaf dan beribu kali maaf aku ucapkan untuk janji yang pernah kita ucapkan.

Tawa, canda, dan cerita yang tersimpan selama satu bulan pun meluap begitu saja malam itu. Sampai dimana aku mengeluarkan statement "aku menjadi diri aku sendiri ketika ngobrol sama kamu, aku ga tau harus crita sama siapa saat ga ada kamu, krn kamu satu-satunya orang yang tau setiap detail masalah aku" dan kamu langsung menjawab dengan cepat "akupun begitu, seperti hidupku kembali lagi. And this is the real me" ntah kebahagiaan macam apa yang kita perbuat, aku rasa a temporary happiness! Ya hanya sementara saja.

Perlahan semua masalah dan crita kita bergulir. Dimana sejak pertama kali komunikasi aku sudah membangun pertahanan untuk tidak mau tau tentang hubunganmu dengannya namun nyatanya tidak bisa, justru yang aku lihat disitulah akar semua masalahmu.

Sampai saat kesabaranku hampir habis dan kelelahanku semakin memuncak. Aku marah semarah-marahnya padamu. Aku harap kamu mengerti atau sekedar mencoba mengerti apa yang menjadi pokok kemarahanku dan mencoba memposisikan diri jika ada di posisi aku.

Disela pembicaraan dan tawa kita, kau selipkan kisahmu dengan dia. Kau bilang wanitamu meminta lamaran di bulan juli ini. Dalam hatiku ada rasa sakit tapi aku coba simpan. Sejenak ku coba berpikir netral dan muncul satu pertanyaan yang cukup mengherankan buat aku. Dia adalah wanitamu yang seharusnya mengerti apa yang kamu hadapi kedepannya. Berdasarkan ceritamu, di bulan juli kamu akan mulai rekaman dan kamu pun akan resign dari pekerjaanmu sekarang. yang terlintas di otakku adalah, pola pikir apa yang ada pada wanitamu? Yang aku paham, resign dan memulai pekerjaan baru bukanlah hal yang mudah dengan jadwal latihan untuk rekaman pun padat dan harus ditambah dengan kamu harus meyakinkan diri untuk ke jenjang yang lebih serius dan untuk persiapannya. Well, mencoba positif thinking saja bahwa dy takut akan kehilangan kamu, tp tetap saja cara yang dia pilih kurang pas menurutku.

Berlanjut ke perbincangan kita kemarin kamu melanjutkan statementmu bahwa wanitamu pernah meminta putus dari dirimu dengan syarat kamu harus memberikan uang ganti yang jumlahnya tidak sedikit dengan alasan kamu telah menyia-nyiakan dia. Sungguh aku sebagai wanita malu ada wanita lain seperti itu, mau melepaskan pria yang sudah cukup lama bersamanya dengan dibayar uang. Mungkin yang ada di otaknya kamu merupakan pohon duit buat hidupnya, kamu bisa dibawah kendali dia, that's why dia bertahan dengan cara itu. Maaf harus ku katakan dan ku simpulkan bahwa wanitamu cukup matrelialitis.

Aku mencoba mengingat crita mu, ketika papamu masih belum menyetujui hubungan kalian sampai saat ini dengan alasan takut kamu di handle sepenuhnya sama dia. Well, aku rasa papamu benar. Sampai ketika orangtuamu mau renovasi rumah dan meminta tambahan biaya untuk renovasi rumah pun wanitamu malah berkata "mending dikasih perbulan aja jadi ga perlu minta lagi ketika ada keperluan seperti ini dalam jumlah besar." Ya aku tau, wanitamu mengetahui semua tabunganmu, rekeningmu. Tp ini untuk orangtuamu sendiri, yang akan menjadi calon mertuanya dia bisa berkata seperti itu. Untuk kesekian kalinya aku mengatakan kepadamu, kita adalah anak tunggal yang mana ketika mereka sudah tidak sanggup untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri kemana lagi mreka akan bertumpu kl bukan kamu? Belum jadi istrimu saja sudah tidak bisa berbagi (ditambah lagi uang yang kamu gunakanpun uang kamu sendiri bukan hasil jerih payah kalian berdua). Ya mungkin itu sudah terlalu jauh pemikiranku, yang simple saja lah, yang bisa di pikirkan semua orang yaitu, kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikan orang tua kita mulai dari mengandung sampai membesarkan kita seperti sekarang bukan hanya materi, tp pertarungan seluruh jiwa dan raga mreka, dengan uangpun saja tidak cukup. Inilah puncak kemarahanku kepadamu.

Aku tidak paham apa yang membuatmu bertahan sampai selama ini dan lebih mementingkan kepentingan wanitamu dibanding orangtuamu. Meskipun kau bilang kau tetap melakukan hal yang kamu anggap itu untuk kedua orangtua mu, tapi tetap saja kamu telah memberikan celah kepada orang lain untuk menjatuhkan orangtua-mu sendiri dan itu adalah calon menantu untuk orangtua mu. Bayangkan jika kalian menikah dan tinggal satu atap dengan nya akan lebih banyak hal yang menjadi perdebatan di dalam nya. Bukan membuat orangtuamu bahagia tapi menjadikan pikiran untuknya. Kalau kali ini kamu mau bilang aku intervensi yah aku akui mungkin aku intervensi krn sudah pakai hati. Tapi ketika sahabatku bertanya kalau sampai kamu putus dan kamu tidak memilih aku bagaimana? Dengan tegas aku katakan aku tidak masalah kamu mau dengan siapapun asal wanita yang bisa menghargai orang lain apalg orang tuamu, dan orang yang memang benar-benar kamu sayang agar kamu tidak lagi melirik wanita lain. Tapi aku tidak mau menjadi wanita yang munafik karena sesungguhnya dari hati kecilku masih berharap kepadamu.

Aku bukan hanya mementingkan dirimu saja, tapi aku mementingkan orangtuamu juga yang sudah tidak muda lagi dan keturunanmu untuk kedepannya.

Bolehkah aku meminta satu permintaan terakhir jika memang kamu akan melangkah ke jenjang itu?

For the last time i wanna meet you, i wanna hug you. Then i will let you
enjoy your happiness with her. I won't bother you again if u already engage with her. I appreciate what you've choosen

No comments:

Post a Comment